Translate

Friday, January 24, 2014

Contoh Bahan Dan Manfaat Pestisida Nabati


(Jenis Tanaman) (Bagian Penggunaan) (Hama/Penyakit yang dikendalikan)
Adas Biji Kutu (beras, sereal, palawija)
Alang-alang Rimpang Antraknosa pada buncis
Babandotan Seluruh tanaman Nematode pada kentang
Bawang-bawangan Umbi Busuk batang pada panili
Bengkoang Biji Ulat pada kubis
Brotowali batang Lalat buahKutu aphids pada cabe
Cabe buah Hama tikus pada tanaman hias
Cengkeh bunga Phytopthora pada lada
Daun wangi Daun Lalat buah, bactrocera dorsalis
Gadung Umbi Tikus/rodentisida
Jahe Rimpang Ulat Plutella xylostella pada kubis
Jambu mete Kulit Ulat jambu mete
Jambu biji Daun Antraknosa
Jarak Buah dan daun Namatoda pada nilam dan jahe, Lalat penggerek daun pada tanaman terung-terungan
Jengkol Buah Walangsangit pada cabe
Jeruk nipis Daun Busuk hitam pada anggrek
Kacang babi Biji Ulat pucuk
Kayu manis Daun Pestisida organic
Kemangi Daun Busuk hitam pada anggrek
Kencur Rimpang Phytoptora pada lada
Acubung Bunga Kutu, ulat tanah
Kenikir Bunga Walangsangit
Kunyit Rimpang Phytoptora pada lada
Lada Biji, daun Hama gudang, Antraknosa pada cabe
Lengkuas Rimpang AntraknosaSemut pada lada
Mimba DaunBiji Antraknosa pada buncis dan cabe, Phytoptora pada tembakau, Belatung, Pengisap polong pada kedelai, Hama pengetam pada kelapa
Mindi Daun Ulat penggerek
Mahoni Biji Kutu daun pada krisanUlat tanah, Walangsangit, wereng coklat
Pacar cina Daun Spodoptera litura pada kedelai dan kubis
Pahitan/kipahit Daun Serangga Tribolium castaneum
Patah tulang Daun Molusca
Pandan Daun Walangsangit
Piretrum Bunga Hama gudang
Saga Biji Hama gudang sitophilus sp
Selasih Daun Lalat buah ( dacus correctus)
Sembung Daun Keong emas
Sereh Batang, daun Herbisida organic
Sirih DaunAbu Antraknosa pada cabeTMV pada tembakau, Hama gudang
Srikaya Biji Thrips pada sedap malam, Kutu daun pada kedelai, kacang panjang, jagung, kapas, tembakau
Sirsak Biji, daun Wereng coklat pada padi
Tembakau Daun, batang Ulat grayak pada famili terung-terungan (tomat, cabe, paprika, terung), Walangsangit
Tembelekan Biji Ulat grayak Spodoptera litura pada kedelai, Penggerek polong
Tuba akar Keong mas, Hama gudang

Thursday, October 10, 2013

Mengenal Budidaya Porang dan Manfaat Ekonominya Bagi Petani Hutan di Blora



Tanaman porang (amorphopallus oncophillus) merupakan tanaman yang hidup di hutan tropis. Tanaman yang bisa juga ditanam di dataran rendah tersebut mudah hidup di antara tegakan pohon hutan seperti misalnya Jati dan Pohon Sono. Porang di daerah Jawa dikenal dengan nama iles-iles atau suweg. Termasuk tumbuhan semak (herba) yang memiliki tinggi 100 – 150 cm dengan umbi yang berada di dalam tanah.

Batang tegak, lunak, batang halus berwarna hijau atau hitam belang-belang (totol-totol) putih.Batang tunggal memecah menjadi tiga batang sekunder dan akan memecah lagi sekaligus menjadi tangkai daun. Pada setiap pertemuan batang akan tumbuh bintil atau katak berwarna coklat kehitam-hitaman sebagai alat perkembangbiakan tanaman porang. Tinggi tanaman dapat mencapai 1,5 meter sangat tergantung umur dan kesuburan tanah. Umbi inilah yang akan dipungut hasilnya karena memiliki zat glucomanan.

Tanaman tersebut kini mempunyai prospek yang menjanjikan karena memiliki nilai ekonomi yang bisa dibudidayakan. Selain itu, porang banyak sekali dibutuhkan terutama untuk industri dan kesehatan, hal ini terutama karena kandungan zat glucomanan yang ada di dalamnya. Beberapa manfaat umbi porang yang lainnya antara lain:

  1. Bahan lem
  2. Jeli
  3. Mie
  4. Tahu
  5. Felem
  6. Perekat tablet
  7. Pembungkus kapsul
  8. Penguat kertas
Umbi tanaman porang yang siap diolah menjadi tepung

Karena banyaknya manfaat yang dikandung, kini Perhutani selaku pengelola hutan bekerjasama dengan para petani desa di sekitar hutan untuk mengembangkan sela-sela tegakan pohon jati yang ditujukan untuk kebon porang.

Di Jawa pengembangan porang telah dimulai di Jawa Timur seperti di Madiun, Nganjuk, Jember, Kediri, Ngawi dll. Melihat potensi luasnya hutan jati di Kabupaten Blora membuat Menteri BUMN Dahlan Iskan tertarik mengajak Perhutani memperluas lahan pengembangbiakan porang di Blora. Hal ini disambut baik Perhutani dan warga petani di Blora.

Untuk menindaklanjuti ide tersebut, Perhutani menyediakan lahan 1200 hektar di Blora. Yang terbagi dalam 4 wilayah KPH yakni di KPH Randublatung sudah siap 520 hektar, KPH Cepu 480 hektar, KPH Blora 150 hektar, dan KPH Mantingan 50 hektar. Hal ini dilakukan bertahap hingga sekitar 3000 hektar. Nantinya tahun depan Perhutani juga akan membangun Pabrik Pengolahan Porang menjadi tepung porang di Blora

Pabrik tersebut nantinya bisa menampung 30 ribu ton porang setiap tahunnya. Dengan adanya pabrik di Blora nantinya bisa mengangkat kehidupan masyarakat, termasuk petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Menurutnya, porang baru akan bisa dipanen dua tahun lagi, sehingga tahun depan pabrik didirikan dan saat panen hasil tanaman porang dari petani sudah bisa dimanfaatkan. Selama menunggu panen, petani akan dipekerjakan menanam porang dengan dibayar setiap bulannya. Petani tidak usah khawatir untuk pemasaran, sebab akan ditampung Perhutani semua. Kata Dirut Perhutani Bambang Sukmananto.

Bulan April lalu penanaman porang secara massal diresmikan Menteri BUMN Dahlan Iskan di hutan mrico kecut BKPH Cabak Kec.Jiken Kabupaten Blora yang diikuti seribu lebih petani dari puluhan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) dan dilanjutkan secara mandiri oleh petani lainnya secara berkesinambungan bersama Perhutani.

Pangsa pasar porang terbesar adalah Jepang. Umbi inilah yang diolah menjadi tepung, kemudian dijadikan penganan khas Jepang seperti konyaku dan shirataki. Konyaku adalah sejenis jelly yang kaya akan serat. Sedangkan shirataki adalah mi tipis transparan, yang dibuat dari konyaku. Meski menjadi penganan khas Jepang, bahan baku berupa umbi porang didatangkan dari Indonesia. 

Kini, permintaan terhadap umbi porang terus meningkat. Tak heran jika muncul beberapa eksportir baru. Mereka tidak menetapkan persyaratan terlalu ketat, kecuali harus kering dan bersih dari cendawan (jamur).

Perkembangbiakan Porang
Perkembangbiakan tanaman Porang dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Secara umum perkembangbiakan tanaman Porang dapat dilakukan melalui berbagai cara yaitu antara lain:

1. Perkembangbiakan dengan Katak
Dalam 1 kg Katak berisi sekitar 100 butir katak. Katak ini pada masa panen dikumpulkan kemudian disimpan sehingga bila memasuki musim hujan bisa langsung ditanam pada lahan yang telah disiapkan. Pada setiap pertemuan batang porang akan tumbuh bintil berwarna coklat kehitam-hitaman sebagai alat perkembangbiakan tanaman porang, inilah yang disebutkatak.

2. Perkembangbiakan dengan Biji/Buah
Tanaman Porang pada setiap kurun waktu empat tahun akan menghasilkan bunga yang kemudian menjadi buah atau biji. Dalam satu tongkol buah bisa menghasilkan biji sampai 250 butir yang dapat digunakan sebagai bibit Porang dengan cara disemaikan terlebih dahulu.

3. Perkembangbiakan dengan Umbi

  • Dengan umbi yang kecil, ini diperoleh dari hasil pengurangan tanaman yang sudah terlalu rapat sehingga perlu untuk dikurangi. Hasil pengurangan ini dikumpulkan yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bibit.
  • Dengan umbi yang besar, ini dilakukan dengan cara umbi yang besar tersebut dipecah-pecah  sesuai dengan selera selanjutnya ditanam pada lahan yang telah disiapkan.

Syarat Tumbuh Porang
Tanaman Porang pada umumnya dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja, namun demikian agar usaha budidaya tanaman Porang dapat berhasil dengan baik perlu diketahui hal-hal yang merupakan syarat-syarat tumbuh tanaman Porang, terutama yang menyangkut iklim dan keadaan tanahnya. Beberapa syarat yang diperlukan tersebut antara lain:

1. Keadaan Iklim
Tanaman Porang mempunyai sifat khusus yaitu mempunyai toleransi yang sangat tinggi terhadap naungan atau tempat teduh (tahan tempat teduh). Tanaman Porang membutuhkan cahaya maksimum hanya sampai 40%. Tanaman Porang dapat tumbuh pada ketinggian 0 – 700 M dpl. Namun yang paling bagus pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 – 600 M dpl.

2. Keadaan Tanah
Untuk hasil yang baik, tanaman Porang menghendaki tanah yang gembur/ subur serta tidak becek (tergenang air). Derajat keasaman tanah yang ideal adalah antara PH 6 – 7 serta pada kondisi jenis tanah apa saja.

3. Kondisi Lingkungan
Naungan yang ideal untuk tanaman Porang adalah jenis Jati, Mahoni Sono, dan lain-lain, yang pokok ada naungan serta terhindar dari kebakaran. Tingkat kerapatan naungan minimal 40% sehingga semakin rapat semakin baik.

Untuk masa panen, tanaman porang dapat dilakukan setelah berumur 3 tahun (3 kali pertumbuhan). Dan untuk harga saat ini sekitar Rp. 800,-/kg dalam keadaan basah. Sementara apabila dijual dalam bentuk irisan keripik yang kering dapat dijual dengan harga Rp.9.000,-/Kg. Apabila kita mampu menjualnya langsung ke pihak investor dari pihak asing kita akan dihargai sekitar USD 18/Kg. Dalam setiap pohon dapat memanen hasil sebanyak 2 Kg umbi, dan dalam setiap hektarnya dapat diperoleh 12 ton atau sekitar 1,5 ton kering.

Itulah tadi sedikit tentang pembudidayaan porang, silahkan mencoba semoga sukses. (rs-infoBlora)

Monday, October 07, 2013

Info PKM 2013

PENGUMUMAN

Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Gresik, bahwasanya mengingat jadwal pengajuan PKM 2013 yang sudah mendekati deadline maka seluruh mahasiswa yang akan mengajukan proposal dihimbau agar menyerahkan "draft susunan proposal PKM , baik soft copy maupun hard copy" Harap dikumpulkan ke KAPRODI paling lambat tanggal 16 Oktober 2013 untuk direview dan dibimbing. karena deadline pengunggahan file ke dikti paling lambat tanggal 31 Oktober 2013.

Best Regards,

Kaprodi. Agroteknologi
Rohmatin Agustina, SP, MP