Wednesday, January 11, 2012

BUDIDAYA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao, L)

Oleh: Ir. Susanto,M.MA
 Pendahuluan
Kakao (Theobroma cacao, L) merupakan komoditas daerah tropika dataran rendah, toleran terhadap naungan dan berbuah sepanjang tahun. Oleh karena sifat tersebut, maka tanaman ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan di pekarangan, tegalan di bawah tanaman yang sudah ada yang berfungsi sebagai naungan. Komoditas ini juga tepat diusahakan petani karena sifatnya yang berbuah sepanjang tahun.
Dalam tata niaga, ada dua kelompok kakao, yaitu kakao mulia (fine flavour) dan kakao lindak (bulk cacao). Parameter utama yang membedakan kedua kelompok tersebut adalah warna keping biji segarnya, yaitu kakao mulia warna keping biji putih, biji keringnya lebih remah dan cita rasanya lebih nutty. Sebaliknya kakao lindak warna keping biji basah ungu, biji kering agak liat dan cita rasa nutty kurang dominan. Indonesia adalah produsen kedua jenis kakao tersebut, kakao lindak dianjurkan untuk perkebunan rakyat dan kakao mulia hanya dihasilkan oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur.

Syarat Tumbuh

    Pada umumnya tanaman kakao tumbuh baik di dataran rendah yaitu 0 – 400 m dpl. Tinggi tempat ini berkaitan erat dengan suhu rata-rata tahunan, kisaran suhu yang baik adalah 20 oC – 32 oC dengan suhu optimum 27 oC. Amplitudu suhu maksimum dan minimum 6 oC – 7 oC.
    Curah hujan yang baik berkisar pada 1.200 – 3.000 mm per tahun dan penyebarannya merata sepanjang tahun. Dalam prakteknya, keterbatasan curah hujan dapat disuplai dengan penggunaan tanaman naungan serta pupuk organik yang cukup. Kelembaban relatif bulanan paling rendah 60 %.

Persiapan Lahan
    Kegiatan ini meliputi pembukaan areal, pembersihan gulma, penanaman pohon naungan, pengajiran kakao, pembuatan teras dan pembuatan lubang tanam.

Tanaman Naungan
    Naungan ditanam paling lambat satu tahun sebelum tanam kakao, agar pada saat bibit kakao ditanam, tanaman tersebut sudah berfungsi baik. Berdasarkan pada fungsinya, ada dua jenis naungan kakao yaitu naungan sementara dan naungan tetap. Naungan sementara digunakan selama tanaman kakao masih muda, sedangkan naungan tetap digunakan selama kakao masih muda sampai dewasa.



    Beberapa spesies naungan sementara dapat digunakan antara lain Moghania macrophylla, Theprosia candida dan pisang (Musa spp.), sedangkan sebagai naungan tetap antara lain lamtoro Leucaena sp., Gliricidea sp., Cocos nucifera, Cassia spectabilis, sengon (Albizzia falcata)
    Apabila digunakan lamtoro, Gliricidea sp. atau Cassia sp., jarak tanamnya 3 x 3 m untuk jarak tanam kakao 3 x 3 m atau 4 x 4 m untuk jarak tanam kakao 4 x 2 m. Bibit lamtoro disiapkan dulu di pembibitan dengan bahan tanam benih, demikian pula dengan Cassia sp., sedangkan Gliricidea sp. bahan tanamnya turus batang. Apabila digunakan pisang sebagai naungan sementara, jarak tanamnya adalah 3 x 6 m untuk kakao 3 x 3 m atau 4 x 4 m untuk kakao 4 x 2 m. Anakan pisang atau bibit pisang asal kultur jaringan dapat digunakan untuk bahan tanam. Moghania macrophylla ditanam di dalam larikan naungan dengan jarak dalam barisan sekitar 30 cm. Bahan tanam berupa benih.

Pengajiran Kakao
    Erat kaitannya dengan pengajiran adalah penentuan jarak tanam. Kakao lazim ditanam dalam jarak tanam 3 x 3 m (populasi 1.100 tanaman) atau 4 x 2 m (populasi 1.250 tanaman)

Lubang Tanam
    Sebelum dibuat lubang tanam, pada lahan dengan kelerengan tertentu perlu dibuat teras-teras individu. Ukuran teras dapat berdiameter 2 m atau lebih dengan tiang ajir sebagai pusatnya. Permukaan teras miring ke arah dinding teras.
    Ukuran lubang tanam tergantung tekstur tanah, makin berat tekstur tanah maka ukuran lubang tanam makin besar. Ukuran yang lazim adalah 40 x 40 x 40 cm dan untuk tanah berat berbatu 60 x 60 x 60 cm. Tanah lapisan atas dipisahkan dari tanah lapisan tanah bawah. Lubang tanam dibuat bulan Mei – Juni, dan ditutup bulan Oktober – November.

Bahan Tanam
    Bahan tanam kakao untuk perkebunan rakyat disarankan jenis kakao lindak berupa benih hibrida atau klonal. Benih hibrida dapat diperoleh dari kebun benih yang sudah mendapat rekomendasi dari Menteri Pertanian dan dari sumber yang masih bebas serangan hama penggerek buah kakao.

Penyiapan Benih
    Apabila benih kakao diperoleh dari sumber benih resmi, biasanya sudah dikuliti dan siap disemaikan. Seandainya benih tersebut membuat sendiri, maka setelah dikeluarkan dari buahnya, benih direndam dalam air kapur 19 % kemudian pulpa beserta testa (lulit benih) dikupas. Benih yang diperoleh direndam sekitar 10 menit dalam larutan fungisida, kemudian langsung disemaikan atau dikeringanginkan apabila tidak segera disemai.

Pesemaian Benih
    Media pesemaian dapat menggunakan karung goni atau pasir. Karung goni dibasahi kemudian benih kakao yang sudah dikuliti disebarkan di atasnya, kemudian karung goni ditutup selembar karung lagi dan dibasahi. Karung diletakkan di tempat yang teduh.
    Apabila digunakan bak pasir, pasir halus dihamparkan dalam bak, disiram sampai jenuh, kemudian benih kakao ditanam dengan bagian radikula di bawah. Jarak antar benih 5 x 5 cm. Bak pesemaian diberi atap buatan sehingga cahaya yang diteruskan hanya sekitar 30 % terhadap penyinaran langsung.
    Lama persemaian hanya 3 – 4 hari, sebab setelah calon akar tunggang (radikula) tumbuh, maka kecambah segera dipindah ke dalam polibag di pembibitan. Benih yang berkecambah setelah 12 hari, tidak digunakan untuk bibit.

Pembibitan
    Siapkan polibag ukuran 30 x 40 cm dan tebal 0,20 cm. Polibag diberi lubang-lubang drainage sebanyak 3 baris di bagian bawah, diameter lubang 5 mm, jarak antar lubang dalam barisan 5 cm. Polibag diisi penuh dengan tanah gembur. Polibag diatur rapat dengan 10 baris per bedengan, jarak antar bedengan 50 cm. Tempat pembibitan diberi atap dari daun kelapa atau daun tebu sehingga intensitas penyinaran yang diteruskan 30 – 50 %.
    Kecambah yang terseleksi dicabut dengan pengungkit, selanjutnya ditanam di polibag. Benih ditanam dengan posisi tegak dengan radikula ke arah bawah.

Pemeliharaan Bibit
    Bila tidak turun hujan dilakukan penyiraman, bibit umur 1 – 3 bulan perlu sekitar 250 ml air/polibag setiap dua hari. Bibit mulai berumur satu bulan, dilakukan pemupukan Urea dengan dosis 2 g/polibag. Pupuk dicampurkan dengan media di sekitar bibit dan kemudian disiram secukupnya. Pemupukan dilakukan dua minggu sekali.
    Gulma yang tumbuh dikendalikan secara teratur. Penyemprotan insektisida dan fungisida dilakukan teratur setiap bulan atau tergantung pada kondisi di lapangan. Hama yang sering mengganggu di pembibitan adalah ulat kilan (Hyposidra talaca), dan siput darat, sedangkan penyakitnya adalah Colletotrichum sp., VSD (vascular streak dieback) dan layu Phytopthora palmivora.
    Setelah bibit berumur sekitar 3 bulan ketika daun-daunnya saling tumpang tindih (over-lapping), dilakukan penjarangan. Satu bulan sebelum bibit dipindah ke lapangan, atap bedengan dijarangkan sehingga intensitas cahaya yang masuk meningkat 70 %. Bibit dipelihara di bedengan selama 4 – 6 bulan dan siap dipindah ke lapangan.
    Kriteria bibit siap dipindah ke kebun adalah :
Tinggi bibit > 50 cm
Jumlah daun > 18 lembar
Diameter batang di bagian hipokotil sekitar 1 cm
Bibit tidak bertunas





Penanaman
    Areal penanaman dinyatakan sudah siap apabila naungan tetap maupun naungan sementara telah berfungsi dengan baik. Apabila naungan belum siap, disarankan untuk memelihara bibit lebih lama lagi di pembibitan dengan memindah bibit ke dalam polibag yang lebih besar.
    Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penanaman bibit adalah :
-    Dua minggu sebelum penanaman, akar yang menembus polibag dipotong dan diusahakan dasar polibag tidak rusak.
-    Sehari sebelum diangkut ke lapangan, bibit disiram sampai jenuh.
-    Selama dalam pengangkutan dan penanaman, media dalam polibag dihindarkan dari pecah.
Media dalam lubang tanam digemburkan dan dibuat lubang seukuran polibag. Dasar polibag setebal +/- 2 cm dipotong, bibit dimasukkan ke dalam lubang dan sisa polibag ditarik ke atas. Kedalaman penanaman bibit sampai batas media polibag. Tanah di sekitar bibit dipadatkan dengan kaki. Penanaman dilakukan antara awal musim hujan sampai pertengahan musim hujan.

Pemeliharaan Tanaman
Pengendalian Gulma
    Gulma merupakan masalah paling serius dalam perkebunan kakao muda, sebaliknya pada tanaman dewasa karena tajuknya sudah menutup maka gulma kurang menjadi masalah besar.
    Beberapa spesies gulma yang lazim tumbuh di perkebunan kakao adalah :
-    Golongan rumput-rumputan ; Imperata cylindrica, Paspalum conjugatum, Setaria plicata.
-    Golongan berdaun lebar ; Mikania micrntha, Eupatorium odoratum, Ageratum conyzoides, Melastoma melabathricum, Mimosa sp.
-    Golongan pakis-pakisan ; Nephrosia brasiliensis.
-    Golongan teki ; Cyperus rotundus.
Gulma di bagian piringan kakao muda maupun dewasa dikendalikan secara mekanis maupun kimiawi. Penyiangan mekanis menggunakan sabit atau cangkul terutama pada bagian piringan tanaman. Setelah dibersihkan dengan cangkul, dapat dilakukan pemupukan. Selesai pembersihan gulma dengan cangkul dapat ditebarkan seresah. Gulma dalam blok pertanaman dapat dikendalikan secara manual maupun kimiawi atau secara kultur teknis (tumpangsari) menggunakan tanaman pangan (tanaman semusim) selama kako muda. Pengendalian gulma secara kimiawi menggunakan herbisida dengan konsentrasi yang tertera dalam labelnya.

Pemupukan
    Jumlah pupuk yang diberikan tergantung pada umur tanaman serta ketersediaan hara dalam tanah.




Jenis dan dosis pupuk untuk kakao
Umur (tahun)    Urea (g/phn/th)    SP-36 (g/phn/th)    KCl (g/phn/th)    Kieserite (g/phn/th)
0 – 1    25    40    20    20
1 – 2    45    72,5    35    40
2 – 3    90    145    70    60
3 – 4    180    280    135    75
    4    220    280    170    120

    Pupuk diberikan dua kali setahun, yaitu pada awal musim hujan dan akhir musim hujan. Cara pemupukan, dibuat alur melingkar batang dengan jari-jari 50 – 75 cm dari pangkal batang, kedalaman alur 5 – 10 cm. Pupuk ditebarkan ke dalam alur selanjutnya alur ditutup dengan tanah.
    Untuk tanah yang kekurangan unsur belerang, Urea diganti dengan ZA dosis 2,2 kali dosis Urea, atau KCl diganti ZK dengan dosis 1,2 kali KCl. Pada tanah masam dan kadar Ca rendah, pupuk Kieserite diganti dengan pupuk Dolomit dosis 1,5 kali dosis Kieserite.

Pemangkasan
    Pangkas bentuk dilakukanpada tanaman belum menghasilkan (TBM), tujuannya untuk membentuk kerangka tanaman yang kuat dan seimbang. Cabang-cabang primer dari jorket dipelihara tiga yang tumbuh kuat dan penyebarannya seimbang. Cabang-cabang sekunder diatur sehingga pertumbuhannya seimbang ke segala arah.
    Pangkasan pemeliharaan dan pangkasan produksi, dilakukan pada tanaman menghasilkan (TM). Tujuannya untuk mempertahankan kerangka tanaman yang sudah terbentuk, sanitasi dan menumbuhkan buah. Cabang yang dipangkas adalah cabang sakit, cabang balik, cabang ortotrop, cabang terlalu terlindung, cabang yang masuk jauh ke tajuk tanaman di sebelahnya. Frekuensi pangkas 4 – 6 kali setahun. Prinsip pemangkasan kakao ini adalah ringan tetapi sering. Tunas air dibuang 2 – 4 minggu sekali.
    Pada awal musim hujan, dilakukan pangkasan pemendekan tanaman, tinggi tanaman dibatasi 3 – 4 m untuk mempermudah panen, pengendalian hama penyakit.
    Alat pangkas berupa gunting pangkas, sabit bergalah, gergaji. Luka potongan cabang bergaris tengah lebih dari 2,5 cm ditutup dengan ter atau obat penutup luka lainnya.
    Pangkasan tidak dilakukan terhadap tanaman yang sedang berbunga lebat dan ketika sebagian besar buah masih muda (pentil, ukuran panjang buah < 10 cm).

Pengelolaan Pohon Naungan
Naungan Sementara
    Naungan sementara Moghania macrophylla dipangkas pada jarak 10 cm di atas permukaan tanah selama musim hujan. Hasil pangkasan digunakan untuk mulsa.
    Naungan sementara pisang (Musa spp.), jumlah anakan diatur sehingga setiap rumpun maksimum hanya berisi tiga batang. Gradasi umur anakan juga diatur agar periode panennya dapat teratur.


Naungan Tetap
    Lamtoro dan Glirisidae sebagai penaung tetap kakao semula ditanam dengan jarak 3 x 3 m atau 4 x 4 m. Populasinya dikurangi secara bertahap dan sistematis. Pada saat tanaman kakao berumur 4 tahun, populasi naungan didongkel sebanyak 25 % dan pada umur 5 tahun didongkel lagi secara sistematis sebanyak 25 %. Populasi akhirnya dipertahankan sebanyak 500 – 600 pohon/ha pada daerah bertipe iklim C – D dan 200 – 300 pohon/ha pada daerah bertipe A – B (Schmidt & Ferguson). Dari populasi akhir tersebut, sebanyak 50 % populasi ditokok pada musim hujan secara berselang-seling, dan 50 % sisanya ditokok pada musim hujan berikutnya. Penokokan dilakukan pada jarak 1 m di atas tajuk tanaman kakao. Khusus Glirisidae dan Ramayana, tokokan dilakukan pada bulan maret – April agar pada musim kemarau tanaman tidak berbunga.

Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama 
Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella)
    Merupakan hama penting kakao, kerusakan biji yang ditimbulkannya dapat mencapai sekitar 89 %. Hama ini sukar dikendalikan karena larva merusak plasenta biji kakao yang sedang berkembang.
    Buah yang terserang bergejala masak awal yaitu belang kuning dan jika buah digoyang tidak berbunyi seperti halnya buah masak normal. Jika dibelah, tampak biji kakao saling melekat warna kehitaman, tidak berkembang dan tidak bernas.
Kepik Penghisap Buah Kakao (Helopeltis spp.)
    Merupakan hama paling lazim menyerang buah dan tunas muda kakao. Hama menusuk dan menghisap cairan sel tanaman, sehingga buah yang terserang menunjukkan gejala spot-spot kehitaman, pertumbuhan buah tidak normal dan bila buah terserang masih kecil maka akan mati. Tunas muda yang terserang akan layu dan kering.
Ulat Kilan (Hyposidra talaca)
    Larva menyerang daun kakao muda. Hama ini dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan insektisida. Pestisida nabati yaitu ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) dapat juga digunakan.
Penggerek Batang (Zeuzera coffeae)
    Larva yang baru ke luar, menggerek batang atau ranting kakao dan setelah mencapai kayu, gerekan mengarah ke ujung. Akibat serangan tersebut batang atau ranting akan kering.
Tikus (Rattus-rattus spp.)
    Tikus menyerang buah kakao pada malam hari, dengan membuat keratan berbentuk bulat pada pangkal buah dengan memakan biji dan plasentanya, yang mengakibatkan buah menjadi kering dan biji habis.




Penyakit
Busuk Buah dan Kanker Batang (Phytophthora palmivora)
    Buah kakao terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Penyakit disebarkan melalui spora atau klamidospora yang terbawa oleh air hujan. Penyakit dapat bertahan di tanah dengan membentuk klamidospora. Penyakit berkembang pesat pada kebun yang lembab dan bercurah hujan tinggi. Serangan pada pangkal buah dapat meluas ke bantalan buah dan batang, menyebabkan penyakit kanker batang.
Penyakit Antraknose Colletricum (Colletotrichum gloeosporioides)
    Penyakit tersebar melalui konidia yang terbawa air hujan. Penyakit berkembang pada curah hujan tinggi dan suhu tinggi karena kurang naungan. Serangan pada daun muda, timbul bintik-bintik cokelat, berlubang dan serangan berat menyebabkan semua daun rontok, ranting gundul. Serangan pada buah, bagian ujung buah kering, berlekuk dan batas bagian sehat dan berwarna kuning. Serangan berat, menyebabkan buah mengeriput.
Penyakit VSD (vascular streak dieback = Oncobasidium theobromae)
    Daun yang terserang menguning dengan bercak-bercak hijau. Pada sayatan bekas duduk daun yang sakit, tampak tiga noktah berwarna coklat kehitaman. Apabila ranting yang sakit disayat membujur, tampak kayu berwarna cokelat kehitaman.
Jamur Upas (Corticium salmonicolor)
    Penyakit disebarkan oleh basidiospora yang terbawa angin. Kelembaban yang tinggi sangat membantu perkembangan penyakit. Jamur ini bersifat polifag. Infeksi awal terjadi pada sisi bagian bawah ranting. Jamur mula-mula membentuk miselium tipis mengkilat seperti sutera yang mirip dengan sarang laba-laba. Fase berikutnya terbentuk kerak yang berwarna merah jambu dan kulit cabang di bawah kerak tersebut busuk. Jamur berkembang terus dan membentuk piknidia yang berwarna merah tua. Cabang yang sakit, daunnya layu mendadak kemudian kering.
Jamur Akar Cokelat (Fomes lamaoensis); Jamur Akar Merah (Ganoderma pseudoforeum)
    Penularan penyakit dengan kontak sebar sakit dengan akar sehat. Tanaman terserang, mula-mula daun menguning, layu dan gugur serentak dan tanaman mati kering.
Layu Pentil Kakao (Cherelle wilt)
    Terjadi pentil muda yang umumnya kurang dari 2,5 bulan. Merupakan penyakit fisiologis, disebabkan oleh kompetisi nutrisi antara pentil dengan tunas-tunas baru. Secara patologis, disebabkan karena serangan hama dan penyakit. Angkanya dapat mencapai 70 – 90 %.

No comments:

Post a Comment